Sejarah.UNY

Belajar bijak dengan sejarah

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin

MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA

Posted by admin on May - 16 - 2012

Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia.
Proses masuknya dan berkembangnya budaya dan ajaran Islam di Indonesia berlangsung secara bertahap dam berlangsung secara damai. Ada beberapa pendapat yang mengemukakan tentang proses masuk dan tersebarnya budaya dan ajaran Islam yaitu sebagai berikut.
1. Marcopolo
Marcopolo dalam perjalanannya pulang dari negeri Cina mengunjungi Pulau Sumatra (Pelabuhan Perlak). Menurut Marcopolo daerah Perlak banyak dikunjungi pedagang muslim. Berita dari Marcopolo tersebut merupakan berita tertua yang menyatakan bahwa di Indonesia telah berkembang sekelompok penduduk muslim , terutama pada kota-kota yang terletak di tepi pantai atau tepi jalur pelayaran dan perdagangan pada saat itu.
2. Ibnu Batuta
Ibnu Batuta menemukan satu kerajaan Islam yang dibuktikan dengan keberadaan sultan yang mengikuti mazhab Syafii. Ibnu Batuta juga menemukan satu makam islam di kota Samudera yang berangka tahun 1421. Penemuan makam bercorak Islam tersebut menandakan kalau di daerah Samudera pada waktu itu telah berkembang agama Islam.
3. Diego Lopez de Sequeira
Diego Lopez de Sequeira pada tahun 1509 mengunjungi Pasai. Diego berpendapat bahwa Pasai merupakan pusat penyebaran budaya dan ajaran agama Islam terpenting dan pertama di Indonesia. Bahkan dari daerah Pasai inilah budaya dan ajaran agama Islam kemudian berkembang ke berbagai daerah di Indonesia.
4. Haji Abdul Malik Karim Amarullah(Hamka)
Menurut Hamka, agama Islam masuk ke Nusantara melalui Mesir dan Mekah. Teori Hamka ini didasarkan pada sebagian besar rakyat Indonesia yang memeluk Islam bermazhab Syafii, seperti yang banyak dianut oleh penduduk Mesir. Selain itu, gelar yang digunakan oleh Raja Samudera Pasai adalah gelar raja-raja Mesir, yaitu Malik.
5. Alwi Sihab
Menurut Alwi Sihab, Islam pertama kali masuk ke Nusantara pada abad pertama Hijriyah(abad ke-7) yang masuk ke Cina melalui jalur barat dibawa oleh para pedagang Arab. Kesimpulan tersebut didasarkan pada berita Cina pada dinasti T’ang yang menyatakan adanya perkampungan Arab di Cina. Cina yang dimaksud dalam berita itu adalah gugusan pulau-pulau di timur jauh, termasuk Kepulauan Indonesia. Jadi, jalur awal penyebaran Islam di Indonesia bukan dari jalur Arab, India, dan Persia, melainkan dari Arab langsung.
Sumber sejarah mengenai masuknya agama Islam ke Indonesia ada dua, yaitu sumber eksternal(dari luar negeri) dan sumber internal(dari dalam negeri). Yang termasuk sumber eksternal yaitu sebagai berikut.
1. Berita Arab, pada abad ke-7 telah banyak pedagang Arab yang mengadakan hubungan dengan masyarakat Kerajaan Zabag/Sriwijaya.
2. Berita Eropa, dibawa oleh marcopolo(Italia) yang menjadi orang Eropa pertama yang datanng ke Indonesia.
3. Berita India, para pedagang Gujarat dari India selain melakukan perdagangan juga menyebarkan agama Islam di pesisir pantai.
4. Berita Cina, Ma Huan( sekretaris Laksamana Cheng Ho) mengatakan bahwa pada tahun 1400 telah ada pedagang-pedagang Islam yang tinggal di pantai utara Jawa.
Sumber sejarah mengenai masuknya agama islam ke Indonesia dari sumber Internal yaitusebagai berikut.
1. Batu nisan Fatimah binti Maimun(1028) sezaman dengan masa Kerajaan Kediri yang bertuliskan Arab di Leran(Gresik). Peninggalan batu nisan ini menjadi bukti bahwa agama Islam sudah masuk ke daerah Jawa Timur.
2. Makam Sultan Malik as-Saleh(1297) di Sumatra(raja Samudera Pasai). Berdasarkan peninggalan ini dapat disimpulkan bahwa untuk pertama kalinya muncul seorang raja beragama Islam dengan gelar”sultan”.
3. Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim(1419) di Gresik. Jirat makam ini didatangkan Gujarat dan berisi tulisan-tulisan Arab.
Kehidupan masyarakat di Nusantara pada awal perkembangannya sudah dipengaruhi oleh budaya Hindu Buddha serta kepercayaan asli Indonesia. Namun demikian, Islam dengan mudah menyebar di masyarakat Indonesia, karena proses penyebaran agama Islam diberbagai daerah di Indonesia dilakukan dengan cara yang dapat diterima(damai tanpa kekerasan) oleh masyarakat Indonesia. Adapun golongan yang berperan dalam proses penyebaran agama Islam di indonesia adalah sebagai berikut.
1. Peran Ulama
Ulama adalah orang pandai(berilmu) khususnya dalam hal ilmu pengetahuan Islam. Sebagai orang yang berilmu, ulama menjadi tokoh masyarakat, guru, penasihat bagi keluarga kerajaan, bahkan ada pula yang mengaku jabatan tinggi di keraton. Untuk seanjutnya kerajaan-kerajaan tersebut menyiarkan agama Islam ke daerah lain. Para ulama yang menyebarkan agama Islam ke pelosok daerah, seperti:
a. Dato’ri Bandang dan Dato Sulaeman, menyebarkan agama Islam di Gowa dan Tallo, Sulawesi Selatan.
b. Dato’ri bandang bersama Tuan Tunggang ri Parangan, menyebarkan agama Islam di Kutai, kalimantan Timur.
c. Penghulu Demak, pembawa islam ke daerah Banjar.
d. Hamzah Fansuri, Syamsudi al-Sumatrani, dan Nurrudin ar-Raniri, menyebarkan Islam di Aceh.
e. Para wali dengan sebutan wali sanga menyebarkan agama lslam di Pulau Jawa. Para wali sanga tersebut adalah sebagai berikut.
1.) Maulana Matik lbrahim, berasal dari Persia dan menetap di Gresik (Sunan Gresik).
2.) Sunan Ampel (Ampel, Jawa Timur) semula bernama Raden Rahmat.
3.) Sunan Bonang, semula bernama Mahdum lbrahim (putra Raden Rahmai) di Bonang, dekat Tuban.
4.) Sunan Drajat (putra Raden Rahmat) semula bernama Syarifuddin berkedudukan di Drajat, dekal Sedayu.
5.) Sunan Giri, semula bernama Raden Paku yang berkedudukan di Giri, dekat Gresik.
6.) Sunan Muria, semula bernama Raden Umar Said berkedudukan di Gunung Muria di daerah Kudus.
7.) Sunan Kalijaga, semula bernama Joko Said yang berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak.
8.) Sunan Kudus, semula bernama Jafar Sidiq berkedudukan di Kudus.
9.) Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatutlah yang berkedudukan di Gunung Jati, Cirebon.
2. Peran Pedagang.
Para pedagang lslam dari Arab, Persia, dan lndia pada abad ke-7 M telah ikut serta dalam kegiatan perdagang di lndonesia. Hal tersebut menimbulkan jalinan hubungan dagang antara masyarakat lndonesia dan para pedagang Islam. Disamping berdagang, para pedagang lslam tersebut menyampaikan dan menyebarkan lslam. Kehadiran para pedagarg rnuslim itu diterima dengan sikap terbuka oleh penguasa setempat. Dengan demikian, secara bertahap agama dan budaya lslam tersebar dari pedagang Arab, Persia, dan India kepada masyarakat lndonesia. Hal lain yang dapat mempercepat proses penyebaran Islam metatui perdagangan adalah keadaan politik beberapa kerajaan. Para adipati yang berada di daerah pesisir berusaha melepaskan diri dari pusat, kemudian rnasuk lslam dan selanjutnya mengembangkan kekuasaannya di kalangan masyarakat pesisir pedagang lslam.
3. Peran Muslim Cina.
Komunitas muslim Cina yang tinggal di Jawa pada umumnya berasal dari wilayah Kanton(Guangzhou), Chuang-Chou, Chong-Chou, Yunan, Swatow, dan beberapa kawasan di Cina Selatan yang menjadi basis agama lslam. Para muslim Cina tersebut menguasai ilmu pelayaran dan naviiasi, sehingga bariyak yang berlayar ke kawasan Asia Tenggara, termasuk ke Pulau Jawa. Setelah tiba di pintai utara Pulau Jawa, orang muslim Cina kemudian berbaur dengan penduduk setempat. Walaupun mereka tidak mempunyai tujuan khusus untuk berdakwah, namun dengan proses asimilasi itu secara tidak langsung mereka memperkenalkan agama lslam yang dianutnya kepada penduduk Pribumi.
Metode yang digunakan oleh orang Cina muslim dalam menyebarkan agama lslam selain melalui pendidikan agama, juga melakukan dakwah melalui pendekatan budaya dan asimilasi dengan masyarakat lokal. Mereka berbaur dan menikah dengan penduduk pribumi dan mengajak memeluk agama lslam. Melalui metode seperti itu, kemudian muncul komunitas muslim Cina di Nusantara, seperti di Palembang dan Sambas yang merupakan komunilas muslim Cina pertama di Nusantara. Bukti-bukti peninggalan komunitas muslim Cina di lndonesia antara lain bangunan masjid dan makan (seperti masjid Cheng-Ho di Surabaya dan makam orang Cina muslim di Cirebon), berita dari Kudus Jawa Tengah, berita dari Salatiga, dan ekspedisi Laksamana Cheng-Ho.
Cheng-Ho atau Zheng-He merupakan seorang muslim Cina yang hidup sekita abad ke-15 yang telah tujuh kali melakukan petualangan antar benua. Di bawah komando Cheng-Ho, armada Cina memulai ekspedisinya pada tahun 1505. Rombongan Cheng-Ho lebih dahulu menunaikan salat di masjid tua di Kota Quanzhou(Provinsi Fujian). Dalam pelayaran pertama itu mampu mencapai kawasan Asia Tenggara (Semenanjung Malaya, Sumatra, dan Jawa). Beberapa tokoh muslim Cina yang pernah ikut berlayar adalah Ma-Huan, Guo Chongli, Fe-Xin, Hassan, Shaban, dan Puheri. Ketika berkunjung ke Samudera Pasai, Cheng-Ho menghadiahi lonceng raksasa Cakadonya kepada Sultan Aceh. Lonceng tersebut saat ini masih tersimpan di museum Banda Aceh. Pada tahun 1415 Cheng-Ho mendarat di Muara Jati (Cirebon). Cheng-Ho menghadlahi beberapa cendera mata khas Cina kepada Sultan Cirebon. Sebuah piring bertuliskan ayat Kursi saat ini masih tersimpan di Keraton Cirebon. Kemudian, Cheng-Ho melanjutkan perjalanan ke Tuban (Jawa Timur) dan mengajarkan agama lslam kepada warga pribumi.
Perkembangan agama lslam di lndonesia ditandai dengan berdirinya kerajaan-kerajaan yang bercorak lslam. Adapun kerajaan-kerajaan yang bercorak lslam antara lain sebagaiberikut.

Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Aceh

Kerajaan Demak

Kerajaan Banten

Kerajaan Makasar